Namun dia memperkirakan, tekanan rupiah masih akan terus berlangsung sampai kondisi ketidakpastian global berkurang. Pasalnya, perekonomian dunia saat ini tidak jelas arahnya, seperti rencana kenaikan tingkat suku bunga AS. “Meski ini alasan klise diulang-ulang terus tapi ini realitasnya. Semua pemain menunggu sinyal dari AS,” terangnya.
Secara terpisah, Analis PT Bank Woori Saudara Tbk, Rully Nova menjelaskan, penguatan rupiah ini didukung sentimen eksternal dan internal. Dari eksternal, data tenaga kerja AS memburuk seiring penyerapan data tenaga kerja di sektor non-pertanian dan pemerintah hanya 142 ribu pada September 2015 dari prediksi sekitar 200 ribu telah memberikan sentimen positif terhadap sejumlah mata uang termasuk rupiah.
Data tenaga kerja AS yang memburuk itu membuat harapan pelaku pasar kalau bank sentral AS atau The Federal Reserve belum akan menaikkan suku bunganya. “Kemungkinan kenaikan suku bunga bank sentral AS mundur pada November atau Desember. Jadi masih ada ruang untuk penguatan rupiah,”urainya.
Sementara dari sentimen internal jelasnya, pelaku pasar menanti rilis paket kebijakan pemerintah jilid III. Diharapkan paket kebijakan ekonomi Jilid III ini dapat mendongkrak pertumbuhan ekonomi. “Sentimen positif datang dari domestik dan eksternal sehingga mendorong penguatan rupiah,” ujarnya.













