Oleh: Freddy Tedja
Memasuki bulan keempat sejak kasus positif COVID-19 dipublikasikan di Indonesia, pasar finansial mulai menggeliat kembali, terutama sejak transisi PSBB diumumkan, dimana aktivitas ekonomi mulai dapat dilakukan secara terbatas.
Memang masih panjang perjalanan menuju ke era normal seperti sebelum pandemi. Tidak ada yang tahu kapan pandemi akan berakhir. Kita harus tetap waspada, mengikuti anjuran pemerintah, turut disiplin untuk membantu memutus mata rantai pandemi ini.
Selama masa pandemi, instrumen dengan risiko dan volatilitas rendah – seperti pasar uang – menjadi pilihan investor.
Namun untuk investor dengan profil agresif yang lebih berani menghadapi volatilitas, apakah sudah saatnya melirik instrumen saham, termasuk reksa dana saham?
Simak penjelasan Freddy Tedja, Head of Investment Specialist PT Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI).
Pasar finansial menggeliat
Sepanjang tahun berjalan dari akhir tahun 2019 sampai dengan akhir Juni 2020, indeks harga saham gabungan (IHSG) merosot dari level 6299 ke level 4905, atau pelemahan sebesar 22,1%.
Di level terendahnya pada tanggal 24 Maret, IHSG bahkan sempat bertengger di level 3937 (atau melemah 37,5% hanya dalam tiga bulan dihitung dari akhir tahun 2019).














