Di lain pihak, jika kita berandai-andai menjadi cenayang yang dapat tepat mulai berinvestasi tanggal 24 Maret tersebut, “keuntungan” yang kita raup dalam tiga bulan sampai akhir Juni adalah sebesar 24,6%! Sayangnya, kita bukan cenayang.
Memasuki semester kedua tahun 2020, pergerakan pasar finansial Indonesia mulai menggeliat.
Penyeimbangan antara pelonggaran PSBB diikuti dengan fokus upaya penurunan penyebaran wabah publik menimbulkan harapan kebangkitan ekonomi secara bertahap.
Walaupun tantangan ke depan masih besar, tapi setidaknya perekonomian tidak ‘tutup total’ seperti dua atau tiga bulan yang lalu.
Dukungan stimulus fiskal dan moneter dari pemerintah dan Bank Indonesia (BI) juga semakin mengangkat sentimen.
Ekspektasi pelemahan ekonomi akibat pandemi, langkah BI yang memangkas suku bunga sebesar 25 basis poin ke level 4,25% menjadi kabar positif bagi pasar.
Penurunan suku bunga diharapkan menjadi oli bagi roda ekonomi, menjaga stabilitas dan mendorong pemulihan ekonomi di era COVID-19.
IHSG membaik, saatnya masuk ke saham?
Kedepannya, IHSG tentu masih berfluktuasi, karena memang kenyataannya masih banyak faktor ketidakpastian mengenai pandemi COVID-19.
Namun yang perlu diingat, IHSG adalah salah satu leading indicator, artinya ia bergerak berdasarkan ekspektasi atau harapan di masa depan, ‘mendahului’ fakta yang ada saat ini.














