Minat investor asing terhadap SBN terus menurun sejak pandemi COVID-19 melanda Indonesia, dari 38 persen sebelum pandemi menjadi 14 persen pada Mei 2024.
Selaian itu, Said juga menyoroti, current accont yang terus mengalami defisit.
Sejak kuartal II 2023 hingga kuartal I 2024, current account terus mengalami defisit, setelah sebelumnya surplus dari kuartal III 2021 hingga kuartal I 2023.
Defisit current account pada kuartal I 2024 mencapai 2,2 miliar USD.
Terkahir, pertumbuhan Foreign Direct Investment (FDI) pada kuartal I 2024 sebesar 15 persen, namun menurutnya ini tidak secemerlang periode sebelumnya.
Pada kuartal III 2022, FDI tumbuh fantastis hingga 63,6 persen, namun kemudian menurun secara perlahan.
“Menurunnya minat investor asing terhadap sektor keuangan Indonesia disebabkan oleh sentimen peningkatan yield surat utang di Amerika Serikat dan tren suku bunga tinggi di sejumlah bank sentral negara maju. Akibatnya, kebutuhan likuiditas pemerintah dan pelaku usaha akan menjadi sangat kompetitif dan berbiaya mahal,” jelasnya.
Untuk membantu pemerintah memiliki kelonggaran dalam bergerak, khususnya pada pemerintahan kedepan menghadapi sentimen negatif dari eksternal, khususnya pada sektor keuangan, posisi Badan Anggaran DPR terhadap sejumlah asumsi ekonomi makro dan postur RAPBN 2025, antara lain; Target pertumbuhan ekonomi: 5,1 – 5,5 persen, Tingkat inflasi: 1,5 – 3,5 persen, Nilai tukar Rp/USD: Rp. 15.300-15.900, Yield SBN 10 tahun: 6,9 – 7,2 persen, Harga minyak mentah Indonesia: 75-80 USD per barel, Lifting minyak bumi: 580-605 ribu barel dan Lifting gas bumi: 1.003-1.047 ribu barel setara minyak.













