Sementara itu, di Pesantren Lirboyo, Kediri, para santri mengembangkan usaha roti melalui “Lirboyo Bakery”, serta membangun unit pengolahan sampah plastik dan depo air minum. Semua kegiatan tersebut dikelola secara mandiri oleh para santri.
“Dua contoh di atas hanya sedikit ulasan dari banyaknya kegiatan wirausaha di pesantren. Bila kita ulas satu per satu, akan sangat banyak sekali gambaran kegiatan usaha yang digawangi oleh para santri di pesantren,” ungkap Said.
Lebih dari itu, para santri kini juga aktif dalam bidang teknologi, jurnalisme, bahasa asing, hingga media sosial.
Fenomena viralnya ceramah-ceramah tokoh ulama seperti Gus Baha, KH Anwar Zahid, hingga Gus Muwafiq, menurutnya, tidak lepas dari peran santri dalam mendigitalisasi dakwah Islam lewat berbagai platform daring.
Tak hanya di bidang ekonomi dan teknologi, kiprah santri pun terlihat kuat di sektor politik dan kepemimpinan nasional. Said menegaskan bahwa keberadaan santri telah merata di hampir semua partai politik, termasuk partai-partai nasionalis seperti PDI Perjuangan.
“Saya sendiri sebagai santri, namun sejak tahun 1988 sudah aktif di PDI dan tahun 1999 menjadi PDI Perjuangan,” tutur Said.
Santri, menurut Said, juga telah menyebar dalam berbagai profesi, dari kalangan akademisi, LSM, militer, tenaga medis, hingga birokrasi. Bahkan beberapa di antaranya telah mencapai puncak karier, seperti menjadi jenderal TNI atau pejabat negara.














