Karenanya, harus ada gerakan nyata dan sudah tidak cukup hanya dengan kutukan demi kutukan.
Umat manusia didunia kata Said tidak boleh lengah dan berdiam diri. Sehingga membutuhkan tindakan konkrit dalam gerakan memerangi aksi teror ini.
“Teror demi teror sebagai sebuah gerakan kekerasan telah terjadi dimana-mana dan menjadi gejala di setiap negara baik negara maju seperti Perancis, Belgia atau negara berkembang di Timur Tengah bahkan di negeri kita sendiri sebagaimana aksi teror di Mapolres Solo,” tuturnya.
Dia menegaskan aksi teror di suatu negara bahkan sampai menyasar tempat peribadatan seperti di Madinah al Munawwarah sungguh menyayat kemanusiaan masyarakat dunia.
Aksi teror harus dilawan tapi tidak cukup jika kekerasan dibalas dengan kekerasan karena hasilnya tiada berujung dan akhirnya menjadi spiral kekerasan.
Untuk itu, pendekatan keadilan politik dan ekonomi harus menjadi salah satu cara menjadi tempat membasmi aksi terorisme.
Dia menjelaskan teror demi teror melanda Bangladesh, Iraq, Pakistan dan Saudi Arabia terjadi karena negara ini gagal mengelola keberagaman.
Perbedaan isme dalam agama, ketidak adilan ekonomi, problem politik yang jauh dari selesai akan menjadi ladang subur akai teror.















