JAKARTA-Jumlah usaha rumah tangga pertanian di Jawa Timur mengalami penurunan sekitar 21,8% dalam sepuluh tahun terakhir. Hasil survey Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan jumlah usaha rumah tangga pertanian mencapai 6.305.100. Namun pada sensus pertanian 2013, turun menjadi 4.975.900 usaha rumah tangga. Sehingga ada penurunan sekitar 1.329.200. “Propinsi Jawa Timur paling tinggi memiliki jumlah rumah tangga usaha pertanian,” kata Kepala BPS, Suryamin di Jakarta, Selasa,(3/9).
Meski jumlah petani di Jawa Timur turun, namun jumlah perusahaan pertanian mengalami peningkatan tinggi, dari 654 perusahaan pada 2003. Kini, pada 2013 mencapai 921 perusahaan pertanian.
Lebih jauh kata Suryamin, propinsi lainnya yang juga banyak memiliki usaha rumah tangga pertanian, yakni Jawa Tengah 4,29 juta rumah tangga dan Jawa Barat 3,06 juta rumah tangga. “Sedangkan, provinsi DKI Jakarta merupakan wilayah yang paling sedikit jumlah rumah tangga usaha pertaniannya, yaitu sebanyak 12,3 ribu rumah tangga,” ujarnya
Namun, lanjut Suryami lagi, secara makro, jumlah usaha pertanian di Indonesia pada Mei 2013 berdasarkan hasil sementara sensus pertanian mencapai 26,13 juta rumah tangga usaha pertanian. Artinya, jumlah petani menurun sekitar 5 jutaan. “Jumlah tersebut menurun sebanyak 5,04 juta rumah tangga dari 31,17 juta rumah tangga pada sensus pertanian 2003, yang berarti rata-rata penurunan per tahun sebesar 1,75 %,” terangnya.















