Maka, lanjut dia, peningkatan order benang ini akan direspons SBAT dengan memanfaatkan dana hasil rights issue yang rencananya aksi korporasi ini akan dilaksanakan pada November 2021, setelah mendapatkan persetujuan dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Sejalan dengan penantian keberadaan mesin produksi, ujar Jefri, SBAT berencana menggandeng perusahaan tekstil di Jawa Tengah, agar bisa mempercepat proses penambahan produksi benang.
“Karena, kebutuhan ini sifatnya sangat penting, maka di waktu yang bersamaan, SBAT siap menggandeng pabrik textile di Jawa Tengah untuk membuat benang Open End,” ucapnya.
Melalui kerjasama ini, dia berharap SBAT mampu menciptakan benang unggulan yang diminati pasar dan terus menambah market share ekspor, terutama Bangladesh sebagai negara eskportir handuk ke AS.
“SBAT akan terus ekspansi dan berkembang, agar semakin dikenal dunia sebagai salah satu produsen benang hasil recycle terbaik dan terpercaya,” imbuh Jefri.















