Lebih lanjut dia mengatakan, kondisi perekonomian di kawasan Asia Tenggara yang semakin membaik akan berdampak positif bagi kinerja operasional dan keuangan perseroan.
“Baru-baru ini SBAT diminta untuk mengirimkan benang OE sebanyak sepuluh kontainer per bulan pasar untuk pasar Thailand dan Philipina,” ucapnya.
Selain melakukan rights issue, ungkap Jefri, salah satu solusi dan strategi agar bisa mengakomodir peningkatan permintaan terhadap benang, saat ini SBAT sedang menjajaki rencana kerjasama dengan salah satu produsen mesin benang OE asal Swiss, dengan brand Rieter.
Dia berharap, mesin Rieter bisa diterima dan dioperasikan oleh SBAT pada pertengahan 2022.
Dengan adanya penambahan mesin yang dibeli dengan menggunakan dana hasil rights issue dan kerjasama dengan Rieter, maka diyakini SBAT akan menjadi produsen benang OE terbesar di Indonesia.
Jefri menyebutkan, nantinya kapasitas produksi SBAT mencapai 2.500 ton per bulan.
“Dengan adanya penambahan modal untuk menambah jumlah mesin produksi dan modal kerja, serta perluasan kerjasama dengan Rieter, maka akan menjadikan SBAT sebagai pabrik benang OE recycle yang ramah lingkungan terbesar di Indonesia,” ujarnya.













