Adapun dari aspek militer, meurut SBY, dapat pula dikaitkan dengan kebijakan pembangunan kekuatan dan modernisasi TNI jangka panjang menuju kekuatan yang cukup (minimum essential force) di masa damai, yang dalam masa perang bisa dilakukan mobilisasi dan peningkatan persenjataan militer yang diperlukan.
Pada bagian akhir pidatonya, Presiden SBY menyodorkan visinya yang berjudul “Indonesia In 2045: A Centennial Journey”, yang dimuat oleh Strategic Review : The Indonesian Journal of Leadership, Policy and World Affairs, edisi Agustus 2011.
Visi tersebut, kata Presiden SBY, adalah Indonesia yang berhasil menjadi negara modern yang kuat, yang paling tidak memiliki 3 kekuatan utama. Pertama adalah ekonomi yang kuat dan berkeadilan, dengan demikian kita bisa membuat rakyat semakin sejahtera menuju masyarakat adil dan makmur sebagaimana diamanahkan oleh UUD 1945.
Kedua, demokrasi yang stabil dan berkeadaban, sehingga pelibatan rakyat dalam politik membawa maslahat dan kebaikan bersama. Sedangkan yang ketiga adalah peradaban bangsa yang unggul dan maju, yang dalam dirinya menjadi potensi dan kekuatan bangsa menuju negara maju (developed country) di abad ke-21 ini.
Presiden SBY mengungkapkan bahwa keberhasilannya meraih gelar guru besar, berkat pengorbanan dan dorongan istri dan anak-anaknya, menteri-menterinya, para Staf Khusus Presiden (SKP), staf pribadi, dan para ajudan. “Saya harus mengorbankan waktu paling berharga saya, yaitu waktu saya bersama keluarga, karena waktu itulah yang tersedia. Untuk itu, yang pertama saya harus berterima kasih kepada istri tercinta Ani Yudhoyono,” ucapnya.














