Mudjiadi mengatakan bahwa sebenarnya penyebab terjadinya kekeringan tidak hanya disebabkan berkurangnya perubahan musim tetapi juga disebabkan oleh pelanggaran pola tanam yang dilakukan petani.
Seharusnya padi-palawija-padi tetapi kebanyakan petani menggunakan pola tanam padi-padi-padi.
“Jadi ketaatan petani pada pola tanam dan penggunaan air sangat berpengaruh pada kekeringan,” tambahnya.
Mudjiadi menambahkan PUPR hingga saat ini sudah menyediakan 761 unit unit pompa air (yang tersebar ke 11 Balai Wilayah Sungai/Balai Besar Wilayah Sungai (BWS/BBWS) di 9 Provinsi. Yakni di Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Sulawesi Tenggara, NTB, NTT dan Jawa Timur.
“Pompa yang tersedia memiliki Kapasitas 10 s/d 30 liter/dtk dan kapasitas 5 s/d 150 ltr/dtk,” jelas Mudjiadi.
Upaya lain yang dilakukan PUPR adalah menyuplai air bersih melalui mobil tanki dan hidran umum pada daerah – daerah yang mengalami krisis air bersih, membuat sumur-sumur dalam yang dilengkapi pompa, meminimalkan kebocoran air di sepanjang jaringan irigasi, efisiensi penggunaan air dilakukan melalui sistem penggiliran dalam penggunaan air dan teknologi irigasi hemat air, melakukan pemantauan intensif terhadap ketersediaan air di waduk untuk mengetahui tingkat kekeringan melalui monitoring evaluasi muka air waduk.















