JAKARTA-Dampak aksi unjuk rasa (unras), alias demonstrasi 22 Mei 2019 diyakini tidak akan berpengaruh signifikan terhadap investasi dan pasar keuangan dalam negeri.
Pelemahan rupiah dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang terjadi sejak pembukaan pasar pada pagi hingga Rabu siang ini, tidak akan berlangsung lama.
“Ya itu namanya euforia pasar. Pasar itu suka sentimental saja,” kata Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution di Jakarta, Rabu (22/5/2019).
Menurut Darmin, aksi massa yang terjadi secara keseluruhan masih bisa dikendalikan oleh aparat keamanan. Oleh karena itu, kondisi pada 22 Mei 2019 ini tidak akan berpengaruh signifikan terhadap kepercayaan pelaku pasar.
“Belum ada yang signifikan,” ujar dia.
Menurut Darmin, tekanan di pasar keuangan domestik juga tidak hanya disebabkan kondisi dalam negeri, melainkan tekanan perang dagang antara AS dan China dari eksternal yang telah memicu pembalikan arus modal.
“Jadi selalu ada yang istilahnya dalam pasar keuangan itu taper-tantrum. Jika ada kejadian, investor bisa panik dan pergi. Anda akan lihat sekarang ada yang keluar, tapi kalau situasinya sudah baik, nanti dia balik lagi,” ujar dia.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), menurut data RTI Infokom, pada pukul 14.30 WIB terkoreksi 0,14 persen ke level 5.943.













