Menjawab pertanyaan soal rencana Basuki akan mengambil trayek angkutan laut dari kawasan pulau Seribu – Jakarta PP, menurutnya bahwa sejak tahun 2015 sudah meminta kepada TransJakarta supaya mengubah jenis usaha salah satunya adalah angkutan laut.
Sabuk Nusantara
“Makanya sejak tahun lalu pun orang dari pulau seribu ke Jakarta, naik TransJakarta gratis. Dan kita juga sudah luncurkan satu setengah tahun yang lalu kapal angkutan laut dengan nama ‘Sabuk Nusantara’ dari Pelabuhan Sunda Kelapa. Saya akan menambahkan satu lagi supaya setiap pagi kapal ini berangkat bersamaan dari Kepulauan Seribu ke Jakarta dan begitu juga sebaliknya dalam jam yang bersamaan. Kapal Sabuk Nusantara ini penting meskipun kecepatannya standar, karena dia mengangku berbagai jenis barang lima rupiah per kilogram,” terangnya. 
Di tengah blusukannya ke gang-gang sempit perkampungan kumuh tersebut, Basuki menghadapi penolakan oleh sekelompok remaja yang tidak memakai atribut salah satu ormas manapun, tampak di antaran beberapa lelaki muda dan tua mengenakan kopeah putih. Awalnya di satu lorong ketika blusukan sudah tiga perempat jalan, tetapi saat doorstop dengan sejumlah awak media di pinggir lapangan terbuka di mana pada sebelah utaranya tengah dibangun rusun. Sekelompok remaja tersebut kembali meneriakan penolakannya. Tetapi kali ini ditimpali oleh puluhan orang yang mengelilingi Basuki mulai dari anak, remaja, tua dan muda, baik lelaki dan perempuan dengan ucapan “Ahok…Ahok…Ahok,” sambil mengacungkan dua jari tinggi-tinggi. Para pendemo yang posisinya hanya berjarak seratus meter teriakan penolakannya tidak bisa mengalahkan teriakan “nomor dua….nomor dua….nomor dua….”.













