“Pesparani nasional yang diadakan di Ambon nanti, bukan soal menang atau kalah. Tetapi ini soal gaung persatuan dan persaudaraan berbagai suku dari seluruh penjuru Indonesia. Dan ini bukan hanya kerja Gereja Katolik saja tetapi juga seluruh masyarakat Maluku. Bahkan pesparani ini diselenggarakan di Islamic Center,” ujar Lisa yang juga panitia pusat LP3KN.
Pesparani ini, masih menurut Lisa, merupakan kerja besar bukan hanya panitia tetapi juga para peserta lomba. Kekompakan, persatuan, saling menghormati, saling menerima merupakan sikap yang harus dibawa oleh para kontingen untuk dapat tampil di Ambon. Tanpa sikap-sikap itu sudah pasti, sebuah kelompok paduan suara tidak dapat mempersembahkan suaranya yang terbaik.
“Dan akan ada 34 propinsi yang akan berlaga di Ambon. Oleh karena itu, bisa terjadi, jika tiada toleransi, saling menghormati satu sama lain, bukan bernyanyi yang dihasilkan tetapi berteriak dan kegaduhan yang terjadi,” terangnyasemi.
Sementara bagi Brian “Jikustik”, hakekat menyanyi itu adalah membahagiakan, menyatukan dan memberi kehidupan. Mereka yang tidak suka bernyanyi, ketika berkumpul dengan orang bernyanyi akhirnya ikut terpengaruh juga. Atau juga, ketika mereka yang sama-sama suka bernyanyi bertemu, akan memunculkan kebahagiaan, kebersamaan dan menghilangkan perbedaan.













