Kurang lebih satu minggu sebelum penutupan, Risma diundang oleh beberapa kyai. Meskipun saat itu ada beberapa kyai datang menantangnya.
“Apa kamu berani menutup lokalisasi? Saya jawab Saya berani. ‘Apa yang perlu kita bantu?’ Tidak, karena ini bagi saya urusan umaro. Saya dibantu Kepolisian dan TNI. Saya yakin bisa menyelesaikan ini. Saya takut kalau terjadi pertumpahan darah maka impactnya kemana-mana,” lanjut Risma.
Kemudian Risma diundang kyai pada Harlah NU di Jombang dan para kyai kembali bertanya apakah Risma berani menutup Dolly.
“Ada 9 kyai yang menanyakan ‘Kamu berani menutup Dolly?’ Saya jawab saya berani dan sudah saya persiapkan semuanya. Saya ditanya ‘Apa kesiapanmu?’ Saya jawab saya sudah siap karena saya dibantu TNI dan Polri dan pada harinya saya pastikan akan kita tutup.”
Saya ditanya ‘Siapa kamu, kok berani menutup lokalisasi?’ Saya jawab saya anak bapak dan ibu saya’. Saya sebutkan nama bapak dan ibu saya.”
Diapun sempat ditanya keturunan siapa.
Salah satu pengurus NU yang masih saudaranya membawa silsilah.
Usai 9 kyai itu membahasnya kemudian menemui Risma dan mengatakan ‘Oh, keturunan panglima perang Wis mbak berangkat. Kita semua merestui. Paling kalau kamu ditahan pasti juga akan ngotot karena kamu keturunan panglima perang yang biasa berperang. Kita doakan saja kamu untuk proses penutupan’.”















