JAKARTA-Nilai tukar rupiah pada perdagangan Jumat (3/5) diperkirakan melemah karena pasar domestik masih menantikan kebijakan pemerintah soal pengendalian subsidi bahan bakar minyak (BBM). “Rupiah diperkirakan bergerak dalam kisaran antara 9.720- 9.750 per dollar Amerika Serikat (AS),” ujar analis valas PT Harvest Futures International, Tonny Mariano di Jakarta, Kamis (2/5).
Menurut dia, tidak ada sentimen dalam negeri yang signifikan berpengaruh pada rupiah. Sebab, fokus pelaku pasar masih tertuju pada keputusan pemerintah terkait pemangkasan subsidi BBM. “Ketidakjelasan opsi yang dipilih pemerintah menghambat laju penguatan rupiah,” tegas dia.
Karena itu kata dia, dalam jangka pendek, rupiah agak sulit untuk kembali ke posisi stabil meskipun diterpa sentimen positif dari dalam negeri.
Rilis data neraca perdagangan yang surplus dan tekanan dolar AS yang mereda di awal bulan seharus bisa menjadi katalis penguatan rupiah. Namun yang terjadi justru sebaliknya. Transaksi rupiah masih terbatas dan belum menjadi pilihan pelaku pasar. “Berlarut-larutnya keputusan soal BBM menjadi sentimen negatif bagi rupiah,” jelas dia.
Dari eksternal kata dia, pelaku pasar masih khawatir terhadap pelambatan ekonomi global membuat mereka cenderung memilih mata uang kuat seperti dollar AS dan menghindari aset-aset berisiko. “Apabila ekonomi global tidak pulih, maka sulit bagi rupiah untuk kembali ke level stabil,” kata dia.














