Faktor kedua yang bisa membuat Jokowi bisa lengser lebih cepat adalah kegagalan kebijakannya. Meskipun banyak orang yang diam saja tentang berbagai kebijakannya, tetapi sesungguhnya banyak yang tidak puas dengan berbagai kebijakan yang dilakukan.
Apalagi, pada periode kedua kekuasaannya, Presiden Jokowi lebih cenderung memainkan politik injak kaki.
Menurut Eep, Jokowi senang kabinetnya semakin kotor karena dengan begitu dia bisa mengendalikan banyak orang, termasuk para ketua umum partai politik yang ada di dalam Kabinet Indonesia Maju.
Ketiga, kata Eep, yang tidak diperhitungkan Jokowi adalah kemarahan Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri karena sikap Jokowi terhadap partai banteng moncong putih yang telah membesarkan namanya.
Bila PDI Perjuangan mengambil posisi menentang Jokowi di parlemen dan mengajukan mosi tidak percaya bahwa Jokowi bisa hancur.
Apalagi kalau sikap PDI Perjuangan itu didukung oleh sekutunya Partai Persatuan Pembangunan (PPP) dan Koalisi Perubahan dan Persatuan yang terdiri dari PKS, PKB, dan Partai Nasdem. Bila kekuatan di parlemen ini bersatu maka Jokowi bisa pensiun lebih cepat.
Sementara faktor keempat adalah kemarahan massa rakyat karena Jokowi mulai melupakan akarnya.














