Oleh: Nuryaman Berry Hariyanto
JIKA saat mengetahui Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI) membuat dagelan menyindir Presiden Joko Widodo (Jokowi) dengan sebutan The King of Lip Service, saya tidak terkejut karena saya tahu siapa aktor di belakangnya.
Untuk yang berikutnya saya malah tertawa geli, bahkan sampai terpingkal-pingkal.
Yang pertama, Himpunan Mahasiswa Islam Majelis Penyelamatan Organisasi (HMI MPO) melalui ketua umumnya Affandi Ismail menyerukan kepada rakyat Indonesia untuk melakukan panggilan revolusi yang ujung-ujungnya meminta Presiden Jokowi mundur sebelum masa jabatannya berakhir pada tahun 2024.
Yang kedua, seirama dengan HMI MPO, organ yang katanya oposisi, Presidium Koalisi Menyelamatkan Indonesia (KAMI) se-Jawa juga meminta Presiden Jokowi untuk mundur secara terhormat.
Kedua organ ini melayangkan pernyataan sikapnya di waktu yang bersamaan, Selasa (29/6/21).
Terakhir, dengan langgam yang berbeda, Koordinator Pusat BEM Seluruh Indonesia (SI) 2021, Wahyu Suryono Pratama, Rabu (30/6/21), menyerukan konsolidasi Nasional menggalang perlawanan rakyat.
Yang ujung-ujungnya pun sama, merongrong kepemimpinan Presiden Jokowi.
Ironis. Di tengah pandemi Covid 19 yang tengah mendera seluruh rakyat Indonesia, dan tidak sedikit yang disibukkan dengan melakukan Isolasi Mandiri (Isoman), HMI MPO dan BEM SI justru seperti tidak punya hati dengan melayangkan seruan revolusi dan konsolidasi nasional menggalang perlawanan rakyat.












