Sudahkah hingga saat ini mereka melalui proses kawah candra dimuka layaknya aktivis pergerakan?
Sejauh mana mereka melakukan machtvorming yang berbasis pada nilai-nilai kerakyatan? Sepaham apa mereka tentang syarat-syarat revolusi yang terlebih dahulu harus disiapkan? Karena, mereka sudah berani teriak revolusi.
Ah, tapi rasanya pertanyaan-pertanyaan itu terlalu sulit dan ketinggian untuk dilontarkan ke mereka yang kebetulan saja aktif di organisasi kemahasiswaan tapi masih dangkal dalam pemahaman “terpikul dan memikul” nature bangsanya sendiri.
Sedangkan pertanyaan untuk bapak-bapak para oposan yang tergabung di KAMI, akan menggunakan tools apa untuk meminta Presiden Jokowi mundur?
Secara konstitusional atau inkonstitusional? Kalau menggunakan kekuatan rakyat melalui ekstra parlementer, sudah siapkah secara organik?
Lah wong Presidium yang ikut dalam pernyataan sikapnya saja hanya se-Jawa, tidak nasional. Ingat loh para senior yang terhormat, Jokowi itu terpilih menjadi Presiden Republik Indonesia melalui hasil Pemilu Nasional dengan suara mayoritas.
Karena itu, ada banyak relawan Jokowi yang hingga hari ini masih tetap setia mengawal kepemimpinannya dan masih satu komando.
Akhir kata, apa yang sedang dilakukan para oposan ini, baik yang tua maupun yang muda, memang hanya cerita dagelan dalam sketsa komedi satu babak.












