“Selalu disampaikan di berbagai kesempatan, apa yang disebut dengan demographic dividend, yaitu dimana jumlah populasi yang berusia produktif di antara 15-64 tahun jauh lebih tinggi daripada yang sudah tidak produktif,” terangnya.
Terkait dengan hal tersebut, kata dia, Indonesia masih memiliki demogrphic dividend yang terus meninggi sampai 2040 atau paling tidak hingga 30 tahun lagi.
“Ini berbeda dengan negara-negara maju yang sekarang sudah masuk the aging society, dimana penduduk di atas 65 tahun sudah berada di atas 15 persen dari total penduduk. Kalau Jepang sudah mendekati 20 persen,” kata Mahendra.
Kondisi ini, jelas dia, telah menjadikan ekonomi Indonesia lebih kuat, karena 55 persen dari pengeluaran masyarakat digunakan untuk konsumsi.
Tentunya, lanjut dia, kuatnya fundamental ekonomi saat ini juga ditambah dengan pengeluaran pemerintah dan investasi pemnerintah.
“Ini baru berdasarkan sisi domestik. Itu yan membuat Indonesia relatif lebih berdaya tahan terhadap goncangan global,” ujarnya.
Pada akhirnya, tambah dia, situasi ekonomi ini menjadi Indonesia sebagai sasaran investasi asing.
“Contohnya yang paling jelas di sektor otomotif. Pada saat pasar kita masih mengkonsumsi mobil 200 ribu unit/tahun, tidak ada terlalu banyak yang mau investasi. Tetapi, pada 2012 ini semua menginvestasikan uangnya di sini, karena mereka ingin menikmati pasar Indonesia yang semakin besar,” katanya.














