Michael menyampaikan, nantinya pabrik itu akan memiliki kapasitas produksi sebesar 20.000 metrik ton (100% konsentrasi) atau sebanyak 40.000 metrik ton (50% konsentrasi) per tahun.
Pabrik hidrogen peroksida ini akan menjadi pabrik H2O2 terbesar kedua di Indonesia, yang diharapkan bisa mengurangi ketergantungan impor hidrogen peroksida.
Selain itu, lanjut Michael, pembangunan pabrik tersebut diyakini bisa memperkuat diverifikasi bisnis SGER ke sektor non-batubara, seperti kimia industri, mineral, biomassa dan energi baru terbarukan.
“Perseroan berharap dapat mendiversifikasikan bisnisnya ke luar segmen trading batubara,” tulis Michael.















