JAKARTA-Perseteruan sengit antara Ade Komarudin dan Setya Novanto memang sudah menjadi rahasia umum di Golkar.
Bahkan persaingan terjadi jauh sebelum Munaslub digelar. Namun untuk sementara, persaingan keduanya sudah berakhir.
Dalam Munaslub Setya Novanto berhasil menang memperoleh suara terbanyak mengalahkan Akom di voting pemilihan ketua umum Golkar.
Bahkan, Ade memilih mundur dari gelanggang meski terbuka peluang untuk maju ke putaran berikutnya.
Peneliti Sinaksak Centre Osbin Samosir menilai mundurnya Akom dari putaran kedua sebagai politik balas budi kepada mentor sekaligus seniornya, Setnov.
“Mundurnya Akom yang mendapat suara 31 persen (173 suara) adalah bentuk balas budinya atas saran dan anjuran Aburizal Bakrie mantan Ketua Umum dan kepada Setnov yang sempat jadi pesakitan sebagai Ketua DPR RI akibat masalah kode etik,” ungkap Osbin di Jakarta, Selasa (17/5).
Menurutnya, perolehan suara cukup besar Akom sebagai seorang junior dan baru saja mendapat jabatan strategis sebagai Ketua DPR RI sebagai “hibah” dari ketua lama Aburizal Bakrie dan Setnov, tentu saja sangat mengecewakan kubu Setnov.
“Perkiraan sederhananya, dengan bergeraknya semua jaringan SN dan ARB serta Luhut Binsar Pandjaitan (LBP), mestinya pemilihan cukup satu putaran, dan ternyata harapan itu meleset,” katanya.












