Lebih lanjut, Sri Hartoyo menjelaskan bahwa terdapat berbagai tantangan terkait penyediaan air baku yang harus dihadapi, diantaranya menurunnya kuantitas sumber air baku akibat perubahan iklim global dan penurunan kualitas lingkungan di daerah tangkapan air, ketersediaan sumber air baku yang tidak merata antar wilayah.
Kemudian, adanya konflik kepentingan antar pengguna sumber air baku, serta penurunan kualitas air baku akibat pencemaran sumber air baku.
“Untuk itu diperlukan kebijakan terkait penyediaan air baku untuk air minum secara berkelanjutan, berupa, meningkatkan konservasi wilayah sungai dan perlindungan sumber air baku, meningkatkan efisiensi dan efektifitas pengelolaan sumber daya air melalui pendekatan berbasis wilayah sungai, meningkatkan efisiensi dan efektivitas pemanfaatan air baku melalui sistem regional, serta meningkatkan kualitas perencanaan dan ketepatan sasaran dukungan penyediaan air baku untuk air minum,” Jelas Sri Hartoyo
Kegiatan Sinkronisasi Program Penyediaan Air Baku untuk Air Minum ini diharapkan menjadi wadah yang efektif bagi Direktorat Jenderal Cipta Karya dan Direktorat Jenderal Sumber Daya Air untuk melakukan sinkronisasi perencanaan lingkup kegiatan, sinkronisasi pembiayaan, serta sinkronisasi jadwal pelaksanaan pembangunan, sehingga akan tercapai target utama kegiatan ini yaitu terbangunnya infrastruktur unit air baku yang tepat.















