Fernando menyoroti investigasi salah satu majalah nasional yang mengungkap adanya ketegangan internal di tubuh pemerintahan yang melibatkan dua tokoh paling dekat dengan Presiden Prabowo dan salah satunya Sjafrie Sjamsoeddin. Benturan pandangan mereka terkait skenario pembenahan ekonomi nasional menjadi bukti bahwa perpecahan sudah mulai terlihat di permukaan.
“Yang lebih menarik, dan meresahkan adalah fakta bahwa seorang Menteri Pertahanan seperti Sjafrie ternyata begitu intens mengurusi urusan ekonomi, domain yang seharusnya menjadi wilayah kementerian lain,” tutur dia.
“Pertanyaan kritis muncul, mengapa SS yang notabene Menteri Pertahanan begitu aktif dalam ranah kebijakan ekonomi? Apakah ini bagian dari strategi untuk membangun kredibilitas sebagai calon pemimpin yang komprehensif? Atau lebih jauh lagi, apakah ini merupakan langkah kalkulatif untuk mematangkan positioning politik menjelang Pilpres 2029? Jika jawabannya ya, maka Presiden Prabowo sedang menghadapi skenario yang sangat familiar dalam sejarah politik Indonesia, pengkhianatan dari orang terdekat,” tutur Fernando.
Fernando mengatakan ada anteseden untuk itu pada tahun 2004 lalu. Susilo Bambang Yudhoyono, yang saat itu menjabat sebagai Menteri Koordinator Politik dan Keamanan di kabinet Megawati Soekarnoputri, memutuskan untuk maju sebagai calon presiden. Keputusan ini, kata dia, mengejutkan banyak pihak, terutama Presiden Megawati Soekarnoputri, karena SBY adalah bagian dari tim inti pemerintahan.












