Namun, kata Fernando, ketika seorang menteri yang masih aktif, apalagi menteri seberkuasa Sjafrie—mulai menunjukkan ambisi kepresidenan, ini bukan lagi soal hak demokratis semata. Menurut dia, hal ini adalah ancaman langsung terhadap stabilitas kabinet dan efektivitas pemerintahan.
“Bagaimana mungkin seorang menteri bisa fokus menjalankan tugasnya ketika pikirannya sudah tertuju pada Pilpres 2029?” kata dia.
Fernando dengan tegas mengingatkan Presiden Prabowo untuk berhati-hati terhadap orang-orang terdekatnya yang berambisi menjadi saingannya. Peringatan ini bukan tanpa dasar. Sjafrie sebagai lawan politik Prabowo di 2029, kata dia, adalah skenario terburuk yang bisa terjadi. Ia mengenal seluruh strategi, kelemahan, dan rahasia pemerintahan dari dalam. Ia memiliki akses ke sumber daya negara, jaringan kekuasaan, dan kredibilitas sebagai bagian dari pemerintahan yang sedang berkuasa. Ini adalah kombinasi yang sangat berbahaya.
“Presiden Prabowo kini berada di persimpangan yang sulit. Di satu sisi, bertindak terlalu cepat untuk menetralisir Sjafrie bisa dianggap sebagai tindakan otoriter yang akan merusak citra demokratis pemerintahannya. Di sisi lain, membiarkan situasi ini berkembang tanpa strategi yang jelas bisa berarti mengizinkan ancaman politik tumbuh di dalam istananya sendiri. Keputusan yang diambil dalam beberapa bulan ke depan akan sangat menentukan dinamika politik menjelang 2029. Yang jelas, Prabowo tidak bisa lagi mengabaikan sinyal-sinyal yang sudah begitu jelas ini,” jelas dia.












