Ia juga berbagi pengalamannya menghadapi perundungan saat masih sekolah dan bagaimana ia melewatinya dengan dukungan sahabat dan guru. Pengalaman ini membuat banyak peserta didik tampak tersentuh.
Sementara itu, Andri Tani mengajak para siswa untuk melihat bullying sebagai ancaman terhadap budaya belajar yang sehat. Ia menekankan bahwa sekolah harus menjadi ruang aman, dan perubahan itu dimulai dari cara siswa saling memperlakukan satu sama lain.
“Sekolah yang kuat itu bukan karena bangunannya, tapi karena murid-muridnya berani saling menjaga,” katanya di sela-sela sesi diskusi.
Ia menegaskan agar para siswa dapat saling menghargai satu sama lain dan sebisa mungkin tidak terlibat dalam praktik perundungan yang justru merusak mental sesama.
“Kalau kalian melihat ada teman yang diperlakukan tidak adil, berdirilah di sampingnya, bukan di belakang pelaku,” pungkas Andri.
Ia juga menambahkan bahwa membiarkan bullying terjadi berarti ikut berkontribusi terhadap tindak kekerasan itu sendiri.
“Diam itu bukan netral. Diam itu berarti kita membiarkan ketidakadilan terus terjadi,” ujarnya.
Lingkungan Bebas Perundungan
Sebelum seminar dimulai, Pak Eko, Wakil Kepala Sekolah bidang Kurikulum SMP Providentia, menyampaikan sambutan penting mengenai komitmen sekolah menciptakan lingkungan belajar yang aman dan penuh kepedulian.















