“Kami ingin anak-anak pulang dari sekolah setiap hari dengan rasa aman, bukan takut,” tutur Pak Eko.
Karena itu, sambungnya, seminar yang dilakukan bukan sekadar acara biasa, tetapi bagian dari upaya jangka panjang untuk memastikan setiap murid merasa dihargai, didengar, dan diperlakukan dengan hormat.
Pak Eko juga berharap agar seluruh siswa mampu menerapkan nilai-nilai anti-perundungan tidak hanya di sekolah, tetapi juga di media sosial dan lingkungan rumah.
Menurutnya, menghadapi bullying di era digital membutuhkan kecerdasan emosional dan keberanian untuk menolak perilaku toxic.
Rangkaian seminar berjalan lancar, di mana para peserta didik antusias mengajukan pertanyaan. Sesi tanya jawab pun berlangsung hangat.
Banyak siswa bertanya bagaimana cara menghadapi teman yang suka menghina, bagaimana mencari bantuan tanpa dianggap “mengadu”, dan cara menghindari balas dendam setelah menjadi korban bullying.
Marisa memberikan jawaban yang ringan, mudah dipahami, serta realistis untuk situasi pergaulan remaja saat ini.
Para guru yang hadir pun tampak mencatat beberapa poin penting untuk digunakan dalam kegiatan pembinaan mendatang.
Seminar “Tolak Perundungan/Bullying” ini menjadi pengingat bahwa menciptakan lingkungan belajar yang sehat bukan hanya tugas guru, tetapi juga seluruh peserta didik.















