Tentunya stok yang akan digunakan mengutamakan pasokan Cadangan Pangan Pemerintah (CPP) yang bersumber dari panen dalam negeri.
“Di 2025, langkah akselerasi produksi pangan akan diimplementasikan pemerintah, sehingga pada tahap pascapanen kita siapkan, salah satunya dengan program SPHP ini. Jadi BUMN pangan menyerap panen petani kita, dijadikan CPP lalu disalurkan ke berbagai lini pasar, peternak, dan produsen demi stabilitas pangan,” ucap Kepala NFA Arief Prasetyo Adi.
Untuk diketahui, program stabilisasi pasokan dan harga beras telah diimplementasikan sejak 2022.
Tercatat pada tahun tersebut tersalurkan sebanyak 1,3 juta ton beras.
Selanjutnya di 2023, SPHP beras mencapai 1,196 juta ton atau 110,30 persen dari target 1,085 juta ton.
Pada 2024 ini, realisasi sampai minggu keempat Desember telah mencapai 1,399 juta ton atau 99,94 persen dari target 1,4 juta ton.
Terlebih, pemerintah telah melakukan kalkulasi bahwa pada setiap kenaikan harga beras sebesar 10 persen akan mendorong kenaikan inflasi 0,34 persen. Untuk itu, berbagai program intervensi perlu terus dimasifkan untuk menekan proyeksi inflasi tersebut.
Sementara program SPHP jagung telah dilaksanakan untuk membantu kalangan peternak unggas.













