Seolah-olah dia adalah dalang dari segala kerusakan rumah tangga itu.
Sementara pelaku KDRT nyaris luput dari amukan warga digital.
Ini adalah cerminan dari misogini yang seakan mendarah daging: ketika seorang pria bersalah, selalu ada perempuan yang harus menanggung beban kesalahan, entah sebagai ”pemicu” atau ”penggoda”.
Kasus kedua, seorang pria muda yang dikenal sebagai cucu pengusaha ternama ditemukan tewas dengan luka tusukan.
Polisi sudah menangkap pelaku.
Namun siapa yang menjadi sasaran empuk kemarahan digital?
Bukan pelaku pembunuh, melainkan seorang perempuan yang adalah pacar korban.
Perempuan itu dituduh sebagai pemicu konflik, dicaci, difitnah, fotonya disebar dan dihancurkan citranya di ruang publik.
Pola yang sama berulang: perempuan terdekat dengan korban justru yang paling disalahkan.
Ia tidak hanya kehilangan orang yang dicintainya, tetapi juga dipersekusi online, dipaksa menanggung tuduhan keji di Tengah suasana duka.
Inilah yang saya sebut sebagai fenomena Kratizen: kekuasaan represif kolektif warga digital.
Kratizen adalah tirani mayoritas di era digital, sebuah kekuatan kolektif yang merasa berhak menghakimi tanpa bukti, menghukum tanpa pengadilan, dan menghancurkan tanpa tanggung jawab.














