Pengamat Komunikasi Politik Hendri Satrio melihat sesungguhnya komunikasi politik yang dibangun oleh parpol cukup bagus. Namun ternyata tidak efektif dalam menjaring suara. “Partai Gerindra misalnya, pencitraan yang mereka lakukan terhadapĀ Prabowo Subianto di media sangat tegas sehingga dapat menutupi kesalahan-kesalahan masa lalu. Namun ini tidak cukup efektif menjaring suara, karena target mereka tidak terpenuhi,” tegasnya.
Sementara itu, Partai Demokrat yang konsisten mengusung figur Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) Ā sebagai tokoh panutan, sebagai pemimpin yang dekat dengan rakyat. “Ini ternyata juga tidak berpengaruh, karena masyarakat selain melihat figur orangnya juga melihat kinerja partainya. Sementara kinerja Demokrat juga tidak terlalu baik karena banyak anggotanya yang terlibat kasus korupsi,” lanjut Hendri.
Hendri melanjutkan strategi komunikasi yang dibangun PDI Perjuangan Ā dengan mengusung Gubernur DKI Jakarta, Jokowi sebagai calon presiden juga tidak memberikan suara yang signifikan. “Ini terjadi karena menurut saya strategi komunikasi yang dibangun dari awal tidak bagus. Ini dimulai ketika Jokowi memproklamirkan dirinya sebagai capres, Jokowi sendirian dan tidak didampingi oleh Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri, ditambah lagi dengan perkataan bahwa Jokowi menjalankan mandat partai. Kemudiam saat kampanye, Megawati tidak pernah melakukan kampanye bersama dengan Jokowi, ini menjadi bahasa politik yang tidak baik,” tutur Dosen Komunikasi Politik Universitas Paramadina ini.













