Dalam perkiraannya yang terbaru, IMF memprediksikan bahwa current account defisit akan terus terlihat di Indonesia untuk 5 tahun ke depan.
Hal ini sendiri membuat investor sedikit ragu mengenai prospek Rupiah di jangka waktu medium, mengingat bahwa posisi current account merupakan salah satu ukuran fundamental yang sangat penting untuk trajektori nilai mata uang negara tertentu.
Bagaimana pandangan pemerintah/BI mengenai hal ini?
Menteri Keuangan Chatib Basri baru saja menyatakan bahwa salah satu prioritas beliau pada saat ini adalah upaya untuk terus menjaga stabilitas Rupiah di market.
Tanda-tanda bahwa BI sendiri telah menaikan intensity mereka dalam melakukan aktivitas smoothing di market juga mengindikasikan bahwa bank sentral Indonesia itu mempunyai pendapat yang kurang lebih sama mengenai Rupiah.
Intinya, stabilitas merupakan kunci, dan tidak ada target USD-IDR di level mana pun, mengingat sentimen investor global sendiri akan menjadi faktor yang paling menentukan pergerakan USD ke depan.
Di saat yang bersamaan, kami juga berpendapat adanya resiko yang besar terhadap prospek perekonomian Indonesia, jika sentimen market terhadap Rupiah akan terus melemah.
Data pertumbuhan ekonomi di Triwulan I yang tercatat sedikit mengecewakan di 6,0% yoy telah menunjukan kesan adanya dampak-dampak yang negatif dari melemahnya Rupiah terhadap laju pertumbuhan konsumsi dan juga investasi dalam negeri.













