Hal ini sendiri sebenarnya tidak mengejutkan kalau kita mengingat bahwa pertumbuhan impor sendiri telah melemah cukup signifikan di beberapa bulan terakhir dan kenyataanya adalah nilai Rupiah yang melemah telah menurunkan daya beli konsumen dan juga pemilik usaha di Indonesia.
Melemahnya Rupiah ini sendiri tidak terlalu berdampak kepada laju pertumbuhan ekspor Indonesia karena kebanyakan barang-barang yang diekspor dari Indonesia adalah komoditas, yang secara fundamental cenderung lebih price inelastic,yang berarti tingkat konsumsinya tidak terlalu sensitif terhadap pergerakan harganya.
Kalau memang recoveri perekonomian dunia masih belum terlihat mantap, maka ada kemungkinan yang sangat besar kalau laju pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa jadi akan terus menurun jika memang Rupiah masih terus melemah.
Oleh karena itu, dalam pandangan kami, komitmen dari pemerintah/BI untuk terus menjaga kestabilan Rupiah di market (menghindari perlemahan yang cenderung excessive) bisa dipercayai.
Kami telah mendiskusikan sebelumnya bahwa rencana kenaikan harga BBM merupakan satu perkembangan yang sebenarnya positif untuk macro risk profile Indonesia dan bisa jadi membantu posisi current account defisit Indonesia, setidak-tidaknya di jangka waktu dekat ini.













