Jika kini, saat suhu politik menghangat, ia menyemburkan tudingan yang berlawanan dengan ucapannya di kala situasi tenang, teduh penuh persahabatan, kira-kira mana yang benar? Apakah ia sedang berusaha menebus dosa atas kegagalannya menyajikan materi debat yang berbobot hingga Prabowo menjadi mati kutu di atas panggung? Bukankah jika ucapannya benar, itu akan menjadi pertanyaan debat maha-dahsyat yang akan berpotensi membuat Jokowi kena skak mat? Ataukah ia sedang mempertontonkan bawah sadarnya, endapan kekecewaan pada Jokowi yang memberhentikannya sebagai pembantu Presiden?
Banyak spekulasi. Tapi saya hanya ingin menyodorkan cermin, yakni ucapan Mas Dirman sendiri di Majalah TAMBANG. Apapun pilihan politik saat ini, saya rasa Mas Dirman patut berbangga karena Menteri Jonan, Rini Soemarno, dan Sri Mulyani menuntaskan sengkarut kasus Freeport dengan menapaki jalan yang telah dirintisnya. Saya lantas teringat waktu kita berdua ngopi di sebuah sudut Jakarta, pasca reshuffle. Mas Dirman tampak legawa, berbesar hati, dan jernih. Ia menyadari realpolitik yang tak musti berpihak, bahkan pada orang baik. Bahkan Anda menyatakan Jonan baru saja menelpon dan siap membantu. Saya percaya itu. Belakangan ketika Anda terjun ke politik praktis untuk menjemput takdir pengabdian, saya bisa memaklumi. Ada harapan besar Anda dapat menjadi warna tersendiri sekaligus menjadi basis legitimasi moral kubu oposisi.












