Sektor dengan penurunan terdalam dibanding bulan sebelumnya terjadi pada industri dengan penurunan sebesar 6,38 persen, diikuti pertambangan 5,43 persen.
Sedangkan, ekspor sektor pertanian tumbuh sebesar 2,95 persen (MoM).
Beberapa produk utama ekspor nonmigas dengan kenaikan tertinggi pada September ini, di antaranya adalah kakao dan olahannya (HS 18) yang naik 17,56 persen; besi dan baja (HS 72) 10,41 persen; kopi, teh, dan rempah-rempah (HS 09) 10,26 persen; nikel dan barang daripadanya (HS 75) 9,71 persen; serta bahan bakar mineral (HS 27) 4,58 persen (MoM).
Sedangkan, pelemahan pada beberapa produk ekspor nonmigas, di antaranya adalah bijih logam, terak, dan abu (HS 26) yang turun 32,00 persen; pakaian dan aksesorinya (bukan rajutan) (HS 62) 25,54 persen; timah dan barang daripadanya (HS 80) 22,49 persen, pakaian dan aksesorinya (rajutan) (HS 61) 21,26 persen; dan tembakau dan rokok (HS 24) 18,97 persen (MoM).
Mendag mengungkapkan, Tiongkok, AS, dan Jepang masih menjadi pasar utama ekspor nonmigas Indonesia pada September 2024 dengan nilai mencapai USD 9,11 miliar.
Ketiga negara ini berkontribusi sebesar 43,57 persen dari total ekspor nonmigas nasional.
“Pertumbuhan ekonomi Tiongkok pada 2024 yang diproyeksikan meningkat memberikan sinyal positif bagi kinerja ekspor Indonesia ke Tiongkok yang tumbuh 0,34 persen pada September 2024,” terangnya.















