Dia menjelaskan optimisme ini juga terlihat ketika responden diminta membayangkan kondisi ekonomi sekarang dan setahun ke depan.
Sebanyak 42% mengatakan kondisi ekonomi rumah tangga saat ini lebih baik dari setahun yang lalu, sementara yang mengatakan lebih buruk hanya 24%.
Sebesar 61% mengatakan kondisi ekonomi rumah tangga setahun kedepan lebih baik, sementara yang mengatakan lebih buruk 6%.
37% warga menyatakan kondisi ekonomi nasional saat ini lebih baik dibanding setahun lalu, semetara yang menyatakan lebih buruk hanya 23%.
Dan 55% menyatakan kondisi ekonomi nasional setahun kedepan akan lebih baik sementara yang mengatakan akan lebih buruk hanya 8%. “Data ini menunjukkan warga pada dasarnya opitmistis menghadapi ekonomi masa depan. Ini merupakan modal psikologis penting bagi pemerintah,” ujarnya.
Meski optimis, sebagian masyarakat menganggap kinerja Jokowi kurang menggembirakan, terutama membuat harga pokok terjangkau warga (lebih baik: 26%, lebih buruk: 29%), menyediakan lapangan kerja (lebih baik: 21%; lebih buruk: 34%), mengurangi pengangguran (semakin baik: 17%; semakin buruk: 34%) serta mengurangi jumlah orang miskin (semakin baik: 21%; semakin buruk: 35%). “Karena itu, walaupun kinerjanya dianggap positif, pemerintah Jokowi harus memberi perhatian lebih besar terhadap upaya mengurangi pengangguran, mengurangi jumlah orang miskin, menyediakan lapangan kerja, serta dalam membuat harga-harga kebutuhan pokok yang terjangkau oleh warga pada umumnya,” ujar Sirojudin.















