Pasca pendaftaran calon Gubenur & Wakil Gubenur DKI Jakarta, konstalasi persaingan menuju kursi DKI 1 semakin menarik untuk di amati.
Terlebih dalam proses konsolidasi partai politik dan pebentukan koalisi, ada banyak dinamika dan kejutan yang terjadi.
Meski popularitas Ahok masih moncer, survei secara berkala menunjukkan adanya konsistensi penurunan suara Ahok.
Dijabarkan Rico bahwa elektabilitas Ahok pada Desember 2015 masih tinggi, yaitu berada di angka 50 persen.
Namun di bulan Februari, turun 46 persen dan kembali merosot di April 2016 dengan angka 38,9 persen dan September 2016 (34,2%).
“Penurunan Ahok terasa tajam saat memutuskan meninggalkan jalur independen. Dari 100% pemilih Ahok, ada 71,2% yang menginginkan Ahok maju dari jalur independen, sementara ada 23,1% menginginkan Ahok maju dari jalur partai politik,” ujarnya.
Dia menjelaskan, dari semua kelemahan yang dimiliki pasangan Ahok-Djarot, data motif pemilih menunjukkan bahwa Ahok masih dianggap paling kompeten.
Terbukti, dari 100% pemilih, yang menilai kandidat berkinerja bagus, 48.3% memilih Ahok-Djarot dibanding Anies-Sandi yang 25% dan Agus-Sylvi 16.7%.
Karena itu, bila Ahok-Djarot konsisten dengan isu kompetensi bukan tidak mungkin tren positif bisa kembali dirasakan Ahok.













