Dalam diskusi terungkap bahwa komunikasi bukan sekadar alat teknis semata, melainkan sebuah “panggilan perjumpaan” (vocation of encounter).
Diingatkan kembali semangat Nostra Aetate dalam terang transformasi digital, sekaligus menekankan urgensi menjadikan komunikasi sebagai jalan menuju kepercayaan, rekonsiliasi, dan perdamaian di tengah dunia yang terpecah.
Oleh Sr Nina FMA yang berasal dari Kroasia ditekankan tentang komunikasi sebagai“pilar kekuasaan keempat”.
Para komunikator religius dituntut untuk menavigasi lanskap media hibrida dengan literasi AI dan kompetensi naratif.
Untuk mewujudkan perdamaian, dalam era dominasi media sosial, storytelling (bercerita) harus digunakan untuk memulihkan martabat manusia dan menjembatani perpecahan.
Rm Bonaventura melihat adanya perubahan peta Geomisi yang berdampak pada akar komunikasi.
Pada saat ini peta geomisi dunia berubah. Afrika dan Asia yang dulunya dipandang sebagai „daerah pinggiran“ kini menjadi pusat iman yang hidup.
Para komunikator religius berasal dari negara Asia dan Afrika. Keberhasilan komunikasi diperlukan teologi otentik yang harus berakar pada kepekaan budaya, sebagaimana Yesus sendiri lahir di Betlehem, yang melambangkan kehadiran Tuhan di tengah budaya yang sederhana.














