JK juga mengingatkan agar pengelolaan lingkungan pabrik gula menerapkan standar layaknya pabrik makanan yang modern, terutama aspek kebersihan dan kesehatan. Selama ini, pabrik gula selalu kotor dan kumuh. “Harus bersih, kalau perlu Pak Dirut bisa tiduran di lantai pabrik,” tutur Wapres tersenyum disambut tawa hadirin.
Sementara itu, Menteri Koordinator (Menko) bidang Perekonomian Sofyan Djalil mengatakan revitalisasi dan pembangunan pabrik baru akan dibiayai secara komersil. Pemerintah akan melakukan intervensi agar bank mau memberikan pinjamannya ke pabrik gula, karena dinilai produksi gula secara ekonomis masih menguntungkan. Pemerintah hanya perlu memperbaiki proses penyediaan bahan baku tebu dan meningkatkan kualitas produksinya. “Perlu perbaikan on farm dan off farmnya,” ucapnya.
Sebelumnya Dirut PTPN IX Adi Prasongko menjelaskan dalam paparannya kepada Wapres, bahwa Pabrik Gula Mojo didirikan sejak tahun 1883, dengan kapasitas efektif saat ini 2550 TCD. PG Mojo menggunakan proses pengolahan sulfitasi untuk menghasilkan produk gula kristal putih. PG Mojo membina petani tebu di 15 kecamatan dengan luas area lahan sekitar 7000 hektar. Potensi bahan baku tebu siap giling saat ini 600.000 ton, namun PG Mojo hanya mampu menyerap 340.000 ton untuk diolah menjadi gula. “Jadi tidak efektif. Akhirnya diserap pabrik gula lain di sekitar Jateng dan DIY,” keluhnya.














