JAKARTA – Direktur Lembaga Strategi Nasional (LSN) Syarief Aryfaid menegaskan kondisi Indonesia saat ini tengah berada dalam situasi sosial-ekonomi yang tidak berpihak pada rakyat kecil.
Hal ini tercermin dari kebijakan negara yang justru memperlakukan rakyat sebagai “sapi perah fiskal”, sementara kompensasi sosial dan perlindungan ekonomi minim.
Dia menjelaskan fakta empiris menunjukan tingkat kemiskinan ekstrem masih berada pada kisaran 5-6%, dengan kantong- kantong kemiskinan baru bermunculan di wilayah pedesaan dan urban pinggiran.
Demikian juga dengan pengangguran terbuka, terutama usia produktif muda, semakin tinggi, terlebih dalam sektor manufaktur dan padat karya yang mengalami Pemutusan Hubungan Kerja (PHК).
“Lapangan pekerjaan bergeser ke sektor informal, rentan tanpa jaminan sosial. Inflasi bahan pangan dan tarif dasar (BBM, listrik) memberi tekanan ganda pada rumah tangga miskin,” ujarnya.
Negara Oligarki
Lebih lanjut dia mengatakan gerakan masyarakat Pati juga dapat dibaca sebagai respon terhadap krisis legitimasi negara yang telah lama berlangsung, akibat pencitraan politik yang menjauh dari substansi kesejahteraan.
Secara bersamaan korupsi dan nepotisme yang terus menggerogoti institusi publik, bahkan di daerah.















