JAKARTA-Indonesia tidak akan masuk ke dalam jurang resesi ekonomi setidaknya selama 2023, karena daya beli masyarakat dan tingkat konsumsi yang masih tinggi.
Namun demikian, memang ada kekhawatiran dengan kualitas pertumbuhan ekonomi Indonesia seperti rendahnya ekspor dan tingginya angka pengangguran
Demikian kata Pengamat ekonomi Drajat Wibowo dalam diskusi bertajuk “Membedah pertumbuhan ekonomi di tengah ancaman resesi” di Gedung DPR, Kamis (23/2/2023).
Selain Drajat Wibowo, turut jadi nara sumber pada acara diskusi itu Anggota DPR Komisi XI Kamrussamad dari Partai Gerindra dan pimpinan MPR Syarief Hasan dari Partai Demokrat.
Sedangkan di tingkat global, kata Drajat, kemungkinan ada resesi.
Hal ini karena dampak perang antara Rusia dan Ukraina juga masih berlangsung sejak hampir satu tahun tanpa solusi perdamaian.
Akan tetapi, kata Lektor Kepala (Associate Professor), Perbanas Institute, Jakarta, salah satu penyangga ekonomi nasional untuk menghindari resesi dengan negara berpenduduk terbesar keempat dunia, masih tetap pada daya beli masyarakat, ujarnya.
Dia juga melihat kondisi perpolitikan nasional juga akan kondusif pada tahun ini meski sebagian kalangan ada yang meragukannya.
“Saya kira peluang Indonesia untuk terkena resesi pada tahun 2023 ini lebih kecil dari peluang untuk terkena resesi karena faktor konsumsi yang masih tinggi,” ujarnya.














