“Namun Taman Makam Pahlawan tidak bisa berbicara dan tidak bisa bersaksi. Komando Garnisun Tetap karena salah satu tugasnya dapat membuat TMP ini menjadi saksi dari nilai keteladanan yang harus diikuti oleh generasi baru. Tanpa diceritakan, TMP hanya sebagai tempat pemakaman umum, sepi dan sunyi. Hanya keluarga yang tahu siapa yang dibaringkan di situ. Namun, TMP itu milik negara, milik bangsa dan mereka yang dibaringkan di situ sudah diakui jasanya oleh negara,” tegas Putut Prabantoro, yang berprofesi sebagai Konsultan Komunikasi Publik.
TMP, masih menurut Putut, seharusnya menjadi tempat pendikan ideologi negara dan patriotisme bagi para siswa pendidikan sekolah dasar, menengah dan pendidikan. Mereka yang dibaringkan di TMP adalah mereka yang setia akan ideologi negara, Pancasila serta membuktikan diri sangat luar biasa dalam mencintai tanah air.
Dengan ke TMP, anak-anak akan mulai dibiasakan untuk menghormati siapa saja yang hadir di situ, yang dikenal ataupun tidak dikenal. Kedua, siswa pendidikan akan mencari para tokoh pahlawan yang telah diajarkan di sekolahnya. Mereka akan mulai bertanya dan mencatat apa saja yang dilihat, diceritakan di TMP itu. Tokoh yang dikenal dulu, yang akan mereka cari terutama terkait dengan nilai luhur yang telah disebar para pahlawan.













