“Kami tidak muluk-muluk dalam membangkitkan ekonomi kreatif masyarakat melalui giat wisata. Komitmen kami adalah setiap bulan ada kegiatan wisata budaya di Kampung Langenastran ini. Beberapa pihak telah menghubungi untuk mencari tahu konsep tentang menghidupkan wisata Kampung. Dan dalam waktu ke depan, akan ada banyak kerjasama yang akan dilakukan antar kampung wilayah jeron beteng, luar beteng dan luar Yogyakarta. Kemarin telah hadir peninjau persiapan dari Balikpapan, Kalimantan Timur untuk mencari tahu tentang konsep Kampung Wisata Budaya Langenastran,” ujar Sumartoyo.
Menurut Sumartoyo, masyarakat Langenastran ingin memulai menghidupkan kembali warisan budaya para leluhur dan potensi ekonomi kreatif yang ada di kampungnya. Memasukan budaya dari daerah lain merupakan misi mulia lain dari menggalang kerukunan antar kampung, suku, daerah dll.
“Demi Indonesia Satu Tak Terbagi merupakan tujuan akhir dari kegiatan bulanan yang diadakan di Kampung Langenastran. Alasannya adalah, suku Jawa ada di seluruh Indonesia dan berharap bahwa mereka akan menjadi duta-duta kerukunan dan perdamaian Indonesia di mana saja mereka berada. Caranya melalui revitalisasi budaya-budaya setempat, memelihara serta menjaga warisan budaya leluhur di mana mereka berada, sebagaimana kami memulai dengan tarian Gemu Fa Mi Re. Yogyakarta adalah tanah tumpah kedua semua suku yang belajar di kota ini,” ujarnya.















