JAKARTA-Kebutuhan kayu di Indonesia yang bersifat masif pada saat ini sebagian besar didatangkan dari Eropa. Hal ini disebabkan karena hutan di Indonesia rusak dan membutuhkan waktu lama untuk menjadi hutan produksi. Sebagai contoh, jati emas dan mahoni membutuhkan waktu 15 tahun untuk berproduksi. Kalimantan yang dikenal sebagai penghasil kayu tidak dapat memenuhi kebutuhan kayu.
Demikian dijelaskan Pastor Teguh Santosa SJ, Direktur Sekolah Kejuruan Perkayuan PIKA, Semarang dalam jumpa pers di SMA Kanisius, dalam rangka acara LARI EKSTRIM 64 KM yang diselenggarakan Cannirunners dari Perhimpunan Alumni Kolese Kanisius Jakarta (PAKKJ), Jumat (27/11).
Hadir dalam acara tersebut, Glenn Sbastian (Ketua Panitia LARI EKSTRIM Canirunners), Juaniato Tiwow (Ketua PAKKJ), Mico Tanbrata (Ketua Canirunners), Daisy Chahyadi dan Adrian Chahyadi yang keduanya adalah pelari ekstrim. “Kebutuhan kayu Indonesia yang sifatnya masif dipasok dari Eropa karena Kalimantan dan pulau penghasil kayu hutan lainnya tidak dapat memenuhi kebutuhan. Sementara Jawa telah mampu memberi kontribusi yang signifikan terhadap kebutuhan kayu. Alasan utama adalah, masyarakat Jawa sudah mengenal sistem tanam dan tebang yang menyesuaikan dengan kebutuhan pasar,” ujar Teguh Santosa.














