Menurut pastor yang berasal dari Wonosobo ini, dalam perjalanan sejarahnya yakni sejak didirikan tahun 1972 oleh Br Paul Wiederkehr SJ dan sebelumnya merupakan bengkel kerja (workshop) dipelopori oleh Br. Haeken SJ pada tahun 1953, PIKA telah bekerja sama dengan perusahaan-perusahaan industri furnitur (mebel) yang sangat membutuhkan tenaga ahli desain. Semarang, demikian dijelaskan, adalah pusat pembuatan furnitur terbesar di Indonesia sehingga volume kebutuhan kayu oleh industri tersebut sangat terpantau. “Lulusan ahli desain dan teknik furniture adalah keunggulan yang dimiliki oleh PIKA. Bahkan kebutuhan akan dua bidang keahlian ini akan bertambah, jika MEA sudah berlaku secara efektif. Citra menjadi tukang itulah yang sebenarnya harus dihapuskan dari pendidikan kejuruan seperti PIKA,” ujarnya.
Selain mendapatkan pendidikan secara teknis di bidang permebelan, para siswa juga diajarkan budaya menanam serta memelihara pohon. Pada saat ini PIKA bekerja sama dengan Trees For Trees, lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang memfokuskan diri pada pengeluaran surat sertifikasi legalitas kayu dari aspek penyelamatan lingkungan. Kerjasama meliputi proses penanaman dan perawatan hingg produksi kayu secara detail termasuk di dalamnya pemilihan status lahan yang tepat untuk menghindari konflik horizontal ketika panenan tiba. Pada saat ini, dengan bantuan teknologi, setiap pohon yang ditanam dapat dilihat pertumbuhannya melalui CCTV sehingga illegal loging dapat dihindari.














