JAKARTA-Langkah pemerintah menekan defisit kembar dengan menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) ditengah serta daya saing yang rendah justru akan menjadi blunder.
Efek negatif dari kebijakan ini adalah menghantam daya beli masyarakat, menaikkan ongkos industri, dan melemahkan daya saing produk ekspor Indonesia.
Di sisi lain, produk impor semakin membanjiri pasar dalam negeri karena semakin bebas dan liberalnya ekonomi Indonesia.
“Jelas sekali efek penaikan harga BBM pemerintah terhadap daya beli masyarakat dan terhadap dunia usaha sangat negatif. Banyak usaha rakyat dan skala kecil akan gulung tikar karena beban operasional mereka semakin meningkat akibat naiknya harga BBM ini,” ujar pengamat Ekonomi Universitas Lambung Mangkurat, Banjarmasin, Hidayatullah Muttaqin di Jakarta, Selasa (18/6).
Dia mengatakan perkembangan dan tingkat defisit perdagangan sekarang seharusnya sudah menjadi peringatan keras terhadap pemerintah akan ancaman “perdagangan bebas” dan “liberalisasi ekonomi” yang sudah dan sedang dijalankan pemerintah.
“Pasar Indonesia akan menjadi surga bagi produk impor. Dan ini menggusur industri dalam negeri,” kata dia.
Dengan neraca perdagangan yang kembali defisit pada bulan April sebesar $1,616 miliar, maka pada tahun ini ancaman defisit kembar (twin deficit) sangat mungkin kembali terjadi sebagaimana pada 2012 dengan nilai yang lebih besar.














