Komandan Kopassus ke-12, Letjen TNI (Purn) Tarub berujar, “Kami tidak hebat tetapi terlatih, Semangat ini harus dipertanggungjawabkan demi keberhasilan tugas.”
Oleh karena itu, selain menang tanpa harus ada pertumpahan darah, menjadi pasukan Komando siap untuk diturunkan dalam operasi darat, laut dan udara.

Mereka dilatih secara khusus dan ditempa latihan tempur di hutan dan gunung bersuhu ekstrem.
Menurut Letjen TNI (Pur) Sintong Panjaitan, Komandan Kopassus ke 10 (1985-1987), prajurit Kopassus harus jadi prajurit berdisiplin tinggi yang setia kepada negara.
Tunduk dan taat kepada atasan dan pimpinan, pemimpin yang diakui negara. Jadi kita bisa bersatu, membuat negara ini lebih damai dan baik.”
Sejarah panjang nama besar Kopassus diawali dari usulan Letkol Ignatius Slamet Riyadi pada 1950 yang merasa perlu dibentuk pasukan khusus.
Ide itu sejalan dengan cita-cita atasannya yakni Kolonel Alex Evert Kawilarang saat menjabat Panglima Tentara & Teritorium I/Sumatera.
Hubungan erat keduanya mewujudkan gagasan pembentukan pasukan komando dengan ditandatangani surat keputusan pembentukan pasukan komando oleh Kolonel Kawilarang pada 16 April 1952 dan Mayor. Inf. Mochammad Idjon Dhambi, eks perwira commando didikan Inggris dan sekaligus veteran Perang Dunia II sebagai komandan pertama.
Dengan berspiritkan “Lebih Baik Pulang Nama, Daripada Gagal Di Medan Laga”, berbagai medan pertempuran ditundukan oleh pasukan khusus. Sebut saja, DI/TII, Aceh, PRRI, Permesta, Operasi Woyla, Operasi Tinombala, Operasi Simpang Angin dll.
Danjen Kopassus Ke-15 (1995-1998), Letjen TNI (Pur) Prabowo Subianto mengatakan, “Keberhasilan yang telah dicapai selama ini harus dipupuk, dipelihara dan ditingkatkan dalam rangka menghadapi dinamika perkembangan situasi global, regional dan nasional yang bergulir dengan kompleksitas yang tinggi. Semua itu perlu diantisipasi dengan cepat, tepat, dan akurat dari setiap anggota Kopassus baik dalam hubungan perorangan maupun satuan. Komando !”
Memang tidak semua berjalan mulus, ada beberapa anggota Kopassus yang meninggal di medan yuda. Sebut saja, Mayjen TNI (Anumerta) IGP Danny karya Nugraha yang tewas di Papua, RA Fadillah, Mayor Inf. Tatang Sutresna, Kopda (Anumerta) Suparlan, Lettu (Anumerta) Ahmad Kirang dll, Sebagai tanda penghormatan, nama-nama mereka diabadikan di Kopassus dalam berbagai bentuk.
Nama harum Kopassus yang melegenda tidak hanya memberikan kebanggaan kepada para anggotanya, tetapi juga menjadi “kesakralan” bagi seluruh anggota termasuk purnawiranya.
Jenderal TNI (Purn) Luhut Binsar Panjaitan, sebagaimana dikutip dalam buku ini, mengatakan, “Saya tidak akan pernah abuse my power, karena saya percaya Tuhan telah mengatur hidup ini. Selama masih sehat dan bisa mengabdi pada pemerintah mengabdilan. Sekarang ini saya tidak mau bikin cacat. , karena saya tidak mau mencederai Korps Baret Merah ini. Saya tidak akan mengkhianati Korps Baret Merat. I promise you. Sesuaikan kata dan perbuatan.”
Buku setebal 333 halaman in diterbitkan oleh Red&White Publishing. Diawali dengan “Janji Prajurit Komando”, buku ini ditutup dengan pernyataan Mohamad Hasan sebagai penggagas buku dengan mengguratkan keyakinannya bahwa Bertempur Dengan Senjata Itu Hal Biasa Bagi Prajurit.
Tetapi Bagaimana Memenangi Pertempuran Tanpa Menumpahkan Darah Dan Berhasil Mencapai Tujuan Operasi Adalah Ilmu Tertinggi.
Ada pesan yang sangat bijak yang diguratkan dalam buku ini, yakni hubungan harmonis antara alam dan pasukan komando. “Jangan Mencari Keuntungan Dari Alam, Kita Harus Bisa Mencari Manfaatnya. Alam Bisa Kita Pelihara Dan Salah Satunya Bisa Menjadi Sarana Edukasi,” tulis Hasan di halaman akhir buku ini.
Penegasan ini untuk menyatakan bahwa Kopassus tidak hanya berperang melawan musuh tetapi juga menghidupkan alam dan lingkungan hidup sebagaimana dicontohkannya dalam salah satu cerita tentang “2018, Revitalisasi Telaga Saat.”
Buku ini dilengkapi dengan BarCode agar pembaca dapat terlink langsung dengan sumber-sumber dari youtube. “Kopassus Untuk Indonesia” bukanlah buku strategi perang tetapi lebih bercerita tentang pengalaman para tokohnya.
Satu pesan inti dari buku ini dan hal itu mengingatkan pada satu ungkapan heroik – If you don’t fight for what you want, then don’t cry for what you lose (Jika dirimu tidak mau bertempur untuk sesuatu yang kamu inginkan, maka jangan menangis jika kamu kehilangan).
Penulis adalah Taprof Bidang Ideologi dan Sosbud Lemhannas RI & Alumnus PPSA XXI














