JAKARTA-Pemanfaatan teknologi dapat memberikan manfaat besar dalam pengelolaan Pembangkit Tenaga Listrik berbasis batubara.
Hal ini ditegaskan oleh Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif ketika membuka seminar bertajuk Clean Coal Technology (CCT) yang diselenggarakan oleh New Energy and Industrial Technology Development Organization (NEDO) dan Japan COAL (JCOAL).
“Tantangan sekarang adalah bagaimana kita menghasilkan emisi yang rendah dari energi batubara. Kita sudah memasuki era tersebut,” kata Arifin di Ayana Midplaza Hotel Jakarta, Rabu (26/2).
Penerapan teknologi bisa mendorong menciptakan efisiensi proses pembangkitan batubara. Misalnya, penggunaan boiler supercritical mampu menciptakan efisiensi sebesar 30%, sementara ultra-supercritical bisa sampai mengefisiensikan proses pembangkitan hingga 40%.
Khusus Advanced ultra-supercritical (A-USC) dan Integrated Gasification Combined Cycle (IGCC) akan diterapkan ketika teknologi tersebut sudah tersedia secara komersial.
“Ini adalah salah satu bukti kita taat atas Kesepakatan Paris dalam menciptakan lingkungan yang bersih,” tegas Arifin.
Kendati demikian, Arifin tak memungkiri ada sejumlah tantangan yang dihadapi dalam pengelolaan batubara di Indonesia.













