“Jadi, kita hanya merespon media saja. Karena berita ini yang mungkin lebih menarik daripada menjelaskan keberhasilan pembangunan ekonomi, kesehatan, infrastrtuktur, pertanian dan sebagagainya,” pungkas Arsul.
Heri Budianto juga menyatakan keprihatinannya jika dalam tiga bulan ini kampanye masih terjebak saling sindir yang negatif. Keprihatinan itu juga dirasakan masyarakat di warung kopi. Hanya karena berbeda konstestasi politik.
“Seharusnya kontestasi politik dari pilkada hingga pilpres itu punya tanggung jawab edukasi politik. Karenanya, karena ada ketidakseimbangan media, Gerindra pun melawan melalui medsos. Anehnya medsos pun didominasi hoaks,” katanya singkat.













