Sebelum tersambungnya jalan tol ini, selama ini komunikasi silahturahmi saling berkunjung sebagai wujud budaya ketimuran kita, antar sesama anak bangsa antar propinsi yang tinggal di Pulau Jawa sangat menyita waktu dan biaya yang tidak sedikit, baik menggunakan jalur darat, apalagi jalur udara.
Dengan jalur darat, kita akan menempuh jarak yang sangat jauh dan berkelok-kelok. Arus lalulintas yang padat dengan berbagai jenis kenderaan yang acapkali juga mengalami kemacetan. Total waktu yang dibutuhkan bisa mencapai 24 hingga 30 jam di perjalanan. Tentu itu sangat melelahkan. Tiba di tujuan, di rumah saudara, misalnya, terpaksa harus istirahat dulu, bari bercincang-bincang kemudian.
Dengan jalur udara, setidaknya kita membuthkan rata-rata 7 jam. Dua jam dari rumah ke bandara dan dua jam lagi dari bandara ke tempat tujuan. Satu jam penerbangan udara. Satu jam di bandara keberangkatan, dan satu jam di bandara tujuan dengan segala kemacetan menuju dari dan ke bandara. Selain itu, dari aspek biaya, belum semua orang mampu naik pesawat udara.
Merujuk pada keberhasilan pembangunan dan paket pelayanan di sepanjang tol trans Jawa tersebut, maka pada periode lima tahun ke depan, 2019 -2024, siapapun presidennya, Jokowi atau Prabowo, setidaknya di empat pulau besar lainnya (Sumatera, Kalimantan, Sulawesi dan Papua) sejatinya sudah tersambung dengan jalan tol, sebagai suatu perwujudan azas pemerataan dan keadilan pembangunan dalam bidang trasportasi, khususnya penyediaan jalan tol.














