Plt. Direktur Utama Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores (BPOLBF), Dwi Marhen Yono menyatakan bahwa prosesi ini tidak hanya merupakan bagian dari warisan spiritual lokal, tetapi juga menjadi magnet pariwisata rohani yang mendukung misi besar menjadikan Labuan Bajo sebagai destinasi pariwisata berkelas dunia yang berbasis budaya dan spiritualitas lokal.

“Prosesi Patung Bunda Maria ini membuktikan bahwa nilai-nilai budaya dan religius dapat bersanding dalam membangun narasi pariwisata berkualitas. Kami mengapresiasi seluruh elemen masyarakat dan keuskupan yang telah bekerja sama dalam pelaksanaan acara ini,” ujar Marhen.
Edeltrudis, salah seorang umat asal Rego, Manggarai Barat mengungkapkan bahwa dirinya merasa terharu bisa berjalan bersama ratusan umat lainnya, menyatukan doa dan harapan kepada Bunda Maria.
“Proses ini memberikan pengalaman spiritual yang sangat mendalam bagi saya pribadi. Saya merasa terharu bisa berjalan bersama ratusan umat lainnya, menyatukan doa dan harapan kami kepada Bunda Maria. Momen ini juga semakin mempererat kebersamaan dan memperkuat identitas kita sebagai masyarakat NTT yang toleransinya sangat tinggi”, ungkapnya.














